슈퍼주니어

WARNING !

Ini FF murni bukan hasil karya saya sendiri . Saya hanya copy paste atas ijin penuh dari sang author . Don’t Bash !

**

Second Drug

Pairing : Minho x Taemin

Genre  : NC

Author : RedBlood

Pov Taemin

 

 

 

Ibuku menangis melihatku lagi2 tertangkap sedang memakai obat2an terlarang. Dan lagi2 aku masuk penjara. Kalau boleh jujur, aku lebih senang bunuh diri daripada hidup menyiksa diri hanya untuk mendapatkan sedikit perhatian dan bersikap arogan membangkang orang tua. Aku memang suka melihat ekspresi wajah mereka yg kesal dan menderita krn aku, ada rasa puas yg tidak bisa aku uraikan dalam kata2.

Marah? aku tidak tahu harus marah karena apa?

Menangis? Air mataku sudah kering sejak beberapa tahun yg lalu.

Benci? Bahkan aku ingin sekali membunuh mereka. Tapi mereka org tuaku.

Kenapa mereka menikah? Kenapa mereka melahirkanku kedunia ini? Bila semuanya harus berakhir saling membenci dan saling menyakiti.

Aku memandang dingin ayah dan ibuku ketika aku memasuki jeruji besi yg selalu aku singgahi. Ayahku berteriak mengatakan bahwa aku anak tidak tahu diri, yg selalu menyusahkan org tua dan bikin malu keluarga dan ibuku hanya menangis karena malu memiliki anak sepertiku dan mungkin dia menyesal pernah melahirkanku.

***

1 tahun kemudian…

Aku menatap nenek2 renta di hadapanku di depan gerbang rumah tahanan. Aku memandang sekelilingku untuk memastikan apa yg aku pikirkan itu salah. tapi ternyata tidak ada ibuku yg biasa menjemputku tp seorang nenek yg bahkan aku tidak kenal dia siapa.

“maaf anda sapa?” tanyaku angkuh.

“saya nenekmu, ibunya ibumu” katanya ramah dan tersenyum padaku.

“eh? Bukanya ibu bilang bahwa nenek sudah lama meninggal?”

Dan kulihat wajah lembutnya berubah tegang tp kemudian dia tersenyum lg.

“banyak hal yg terjadi, ibumu ada alasan mengatakan hal itu”

“trus knp skrg anda disini?” tanyaku malas. Tak tertarik dgn masa lalu mereka.

“saya disuruh ibumu untuk menjemputmu dan membawamu bersama saya nak”

Aku menatapnya kaget.

“apa maksutmu?”

______________________

Sudah hampir seminggu aku tinggal di daerah pedesaan yg membosankan ini. Aku benar2 marah pada ibuku krn meninggalkanku setelah ayah. Sekarang mereka benar2 melepaskanku dan ibuku menyerahkanku pada wanita tua yg seperti nenek tua itu bilang dia adalah ibunya ibuku. Padahal ibuku bilang nenekku sudah lama meninggal.

Aku duduk di tepi sungai memandang hampa aliran sungai yg mengalir lembut di depanku. Airnya cukup jernih, bahkan aku bisa melihat wajahku dengan jelas. Tiba2 sesuatu berwarna merah, sebuah sepatu lewat di hadapanku.

“hei, kamu tolong ambilkan sepatuku!” aku menoleh ke arah suara itu.

“hei, kenapa kamu diam saja, cepat ambil sepatuku” kulihat seseorang berlari tergesa2 ke arahku. Lalu aku melihat sepatu merah yg tadi lewat didepanku. Sudah agak jauh. Pikirku. Lalu aku berdiri dan hendak pergi.

“hei! Aaaah sepatukuuu” teriaknya.

“hei, hei kamuuu” tiba2 sebuah tangan menarikku.

“kenapa kau diam saja, padahal dia lewat didepan matamu” aku melihat seorang pemuda yg sepertinya seumuran dgnku. Menatapku marah.

“lepaskan, itu kan sudah lewat di depanku, sudah jauh” kataku kesal. Memang aku peduli dgn sepatunya yg hanyut.

“tapi kaukan bisa mengejarnya”

“ buat apa? Aku malas, aku sedang tidak mood untuk melakukan hal semacam itu”

“memangnya menolong org yg minta tolong hrs pakai mood?” teriaknya marah. Hei knp dia yg jd marah2.

“sepatunya kan sudah hanyut, lagian hanya sepatu knp harus dibesar2kan. Lagian yg salahkan kamu sendiri knp membiarkan sepatumu hanyut. Kenapa kamu marah2 padaku”

“aku tahu aku yg menghanyutkan tp aku marah krn kau tidak menolongku”

“ah, berisik itu bukan urusanku”

Lalu akupun berlari meninggalkannya dengan perasaan jengkel. “benar2 menyebalkan, knp dia marah2 padaku. Kan bukan aku yg menghanyutkannya”. Kataku marah.

___________________

Aku melangkahkan kakiku dengan berat hati. Hari ini aku harus pergi kesekolah. Ah sekolah kampung? Apalagi yg lebih membosankan dari tinggal di gubuk tua dgn nenekku skrg aku hrs ke sekolah org kampung?. Nenekku mendaftarkan aku ke sekolah. Dan memaksaku agar pergi kesekolah kalau tidak aku tidak akan di kasih makan dan tidur di luar. “Sialan, nenek tua itu! wajahnya boleh selembut malaikat. Tapi ternyata dia memang ibunya nenekku. Sama2 keras”

Kenapa hidupku menjadi begitu menyedihkan seperti ini. Padahal bukan aku yg memulai semua penderitaan ini. Bukan aku yg menginginkannya.

“hei, warna rambutmu itu mencolok sekali” tiba2 sebuah suara memecahkan lamunanku. Aku berbalik dan ternyata dia adalah orang yg aku temui di sungai waktu itu.

“bukan urusanmu” kataku jengkel. Lalu pergi. Ternyata dia sekolah di sini jg.  Tidak terpikirkan sedikitpun aku akan bertemu dengannya lg . tapi di kampung ini sekolah ini hanya satu2nya di daerah ini, tentu saja aku akan bertemu dengannya.

__________________

Karena stress, tiba2 penyakit lamaku kumat lagi. Aku memutuskan untuk minta ijin ke ruang kesehatan. Setelah tiba disana aku mencari kotak obat, dan mencari2 obat yg bisa membuatku tenang.

“hei, sedang apa kau disini? Kau sakit?”

Tiba2 suara yg dimana aku mulai mengenal suara ini. Aku berbalik cepat dan sudah kuduga itu dia.

“apa kau menguntitku? Knp kau selalu muncul di hadapanku”

“hei, aku ini drtd disini, aku pikir kau guru kim”

Kenapa dia muncul disaat yg tidak tepat. Sial. Tubuhku sudah tidak sanggup menahan.

“hei, kau tidak apa2”

“lepaskan aku” tubuhku berkeringat dan mulai merasa dingin. Dan tiba2 tubuhku menggigil hebat.

“hei, kau tidak apa2. Aku panggilkan guru kim yah”

Aku menariknya, mencegahnya. Aku berdiri dan mencari2 obat yg bisa aku gunakan. Lalu aku menemukannya dan mengambil beberapa. Lalu meminumnya.

“hei, apa yg kau minum? Knp begitu banyak?”

Lalu dia mengambil botol obat yg td aku ambil dan membacanya. Dia mengernyitkan dahinya menatapku tajam.

“kenapa kau meminum obat ini?”

“itu bukan urusanmu” kataku pelan. tubuhku terlalu lelah untuk meladeninya bertengkar.

“tentu saja ini urusanku, obat yg kau minum ini..”

“sebaiknya kau tutup mulutmu, dan jangan pernah mengatakannya pada siapapun.” Dan tanpa bisa menahannya, obat itu pun bereaksi dan aku pun tertidur.

_______________________

Aku membuka mataku. Dan entah berapa lama aku tertidur. Apakah sekolah sudah usai? tanyaku dalam hati.

“kau sudah bangun?”

Aku terlonjak kaget, kulihat dirinya berdiri di ujung tempat tidur ruang kesehatan dimana aku tidur.

“kau, masih disini?”

“hei, sekiranya berterima kasihlah krn aku menggendongmu ke tempat tidur kalau tidak kau akan tidur dilantai dan masuk angin”

Aku hanya diam. Memalingkan wajahku.

“aessh kau ini benar2 menyebalkan” lalu dia beranjak pergi “ aku pulang duluan”

“hei, berjanjilah kau tidak akan mengatakan pada siapapun” tapi dia tidak menjawab dan hanya terdengar suara pintu tertutup.

“sial!” seruku pelan.

_____________________

Akhir2 ini aku sering kumat, bahkan aku sampai mengambil uang nenekku untuk membeli obat penenang atau obat tidur. Walau itu tidak cukup untukku. Tapi disini aku tidak punya org yg aku kenal untuk membeli obat2 terlarang itu. karena tidak tahan aku mengiris tipis nadiku.

“hei, apa yg kau lakukan” dia menarik tanganku.

“lepaskan, kenapa sih kau ini selalu muncul di hadapanku dan mengganguku” pekikku jengah.

Dia tidak menggubris. Dia mengambil sapu tangan dr sakunya dan mengikatnya di pergelangan tanganku.

“kau ini kenapa sih?”

“itu bukan urusanmu?”

Dia menatapku dengan pandangan seolah2 aku ini mahkluk yg menyedihkan dan patut di kasihani.

“aku dengar dr nenekmu, katanya kau ini sering keluar masuk penjara dan ke tempat rehabilitasi krn kecanduanmu itu”

Aku shock mendengarnya. Rasanya baru kali ini aku begitu marah pada nenek tua sialan itu.

“brengsek, bawel juga dia. Aku akan buat perhitungan dengannya nanti”

“dia sangat khawatir padamu”

Aku hanya tertawa miris.

“dan kau punya hubungan apa dgn nenekku, hingga nenekku brani menceritakan aib cucunya pada org lain”

“sejak kecil aku sudah di asuh olehnya. Aku sudah menganggapnya seperti nenekku”

“terserahlah”

“apa tidak ada cara untuk menghilangkan kecanduanmu itu?”

“kalau ada,aku tidak perlu menderita seperti ini” kataku dingin.

“jadi kau menderita?” katanya tiba2 lembut menatapku. Tatapan yg paling kubenci. Tatapan rasa kasihan.

“itu bukan urusanmu”

“apa ada yg bisa kubantu?” aku memutar bola mataku lalu menatapnya tak percaya.

“knp kau harus mmbantuku? Aku bahkan tidak kenal kau?”

“tp aku kenal dgn nenekmu”

“lalu?”seruku malas.

“dia sangat khawatir padamu tp dia tdk bs berbuat apa2 untukmu krn dia sudah tua, jd mungkin aku bisa membantumu”

“kau ini gila, atau sok baik. Maaf aku tidak butuh bantuanmu”

“kau yakin?”

“yah aku yakin”

Lalu aku pun pergi meninggalkannya. Tapi entah knp aku merasa ada yg aneh dgnku. Tp aku tidak tahu apa itu.

__________________

Lagi2 aku kumat. Lalu aku pergi ke ruang kesehatan. Lalu mencari2 obat yg aku butuhkan.

“percuma kau mencarinya, aku sudah minta guru Kim untuk menyembunyikan obat2 itu”

Aku menatap geram padanya.

“kenapa kau ikut campur, urus saja urusanmu sendiri brengsek” raungku. Tp tubuhku terlalu lemah dan kesakitan. Lalu aku jatuh terduduk.

“hei, apa kau tidak apa2”

“lepaskan aku, aku akan membelinya. Pokoknya aku harus..” tubuhku berkeringat dan lagi2 menggigil hebat menerpaku.

“hei, apa tidak ada yg bisa aku lakukan untukmu, aku akan panggilkan guru Kim”

Tapi aku mencegahnya.

“ada, ada cara lain untuk mengalihkan kecanduanku. Aku sering melakukannya ditempat aku direhabilitasi dulu” aku benar2 putus asa. Aku tidak bisa menahan sakit yg sgt luar biasa ini.

“apa itu? aku akan berusaha membantumu sebisaku”

Aku pun tertawa lirih.

“kau yakin?”

“tentu saja aku yakin”

Lalu aku mnariknya dan menciumnya.

“hei, apa kau gila” teriaknya setelah mendorong.

“kau bilang akan membantuku”

“tapi bukan ini yg aku maksutkan”

“sayangnya inilah yg aku maksutkan, bahkan lebih dr sekedar itu”

Dia memandangku bingung.

“apa maksutmu, lagian kitakan cowo?”

“teman sekamarku di rehabilitasi itu jg cowo kok”

Dia semakin bingung dan ragu harus berkata dan bertindak apa.

“kau mau tahu apa yg bisa mengalihkan kecanduanku ini?” dia hanya menatapku. Aku pun menyeringai liar padanya.

“seks! itulah yg bisa membantu dan mengalihkan kencanduanku.” Yah memang benar.

Yang aku katakan tidak bohong. Selama direhabilitasi aku hampir gila krn tidak bisa memakai obat. Lalu teman sekamarku mengajakku bercinta untuk mengalihkannya.

“kau gila, kau sakit!” pekiknya parau.

Aku tertawa  keras mendengarnya.

“aku memang sakit kok, dan mungkin aku juga gila” kataku dingin.

Lalu aku membaringkannnya dgn kasar ke lantai lalu menindihnya. Menatapnya lekat2. Dia pun menatapku.dan dapat kulihat warna bola mata hitam pekatnya, aku terpesona dan aku tergoda. mata itu seperti menghisapku. Kemudian aku menciumnya. Dan dia terus menatapku dingin dan tidak membalas ciumanku.

“apakah ketika melakukan ini kau senang? Merasa puas? Apa kau bahagia?” aku memandangnya entah knp kata2nya menusuk dan melukai hatiku.

“kalau begitu apakah kau pernah melakukannya?” dia diam. Tapi terus menatapku.

“jadi kau belum pernah?” aku tertawa meremehkan.

“lalu knp? Seandainya aku akan melakukannya aku akan melakukannya dgn seorg wanita, aku ini normal” katanya datar. Aku mengernyitkan dahiku. Dan tersenyum pahit padanya.

“kalau begitu anggap saja aku wanita” aku membuka kemejaku, melipat memanjang lalu menaruhnya di atas matanya.

“percuma, lagian bajumu bau”

“berisik, liat saja kau pasti ketagihan” tantangku.

Aku pun menciumnya lg, melumat bibirnya tanpa balasan sedikitpun darinya. Lalu aku mencium lehernya. Membuka kemejanya mencium dan menjilati dada dan perutnya. Kemudian aku membuka celananya.

“hei, kau terlalu jauh” dia pun bangun terduduk.

“hei, akukan menginginkan sex. Apa kau lupa?”

“kau menyedihkan” dan dia pun pergi.

Aku hanya terdiam. Kurasakan angin menusuk tulang rusukku yg telanjang. Aku kedinginan. Entah kenapa air mata yg sudah lama mengering tiba2 muncul kembali dan membasahi pipiku. Dadaku terasa sakit. lalu aku mengambil silet dalam sakuku dan perlahan ku iris pergelangan tanganku. Krn rasa sedih yg menerjangku, tanganku bergetar hebat membuatku terlalu dalam mengirisnya. Kulihat darah mengalir deras di tanganku.

Aku pun terbaring lemah. Sepertinya hari ini adalah waktunya aku mati. Aku menatap tanganku yg terus mengeluarkan darah dan menggenangi lantai dan kurasakan cairan dingin di pipiku dan bau amis yg menyengat di hidungku. Dan air mataku terus mengalir. Aku menangisi diriku. Diriku yg akan mati sendirian dan keluargaku yg senang atas kematianku. Diriku yg selalu hidup sendirian dan sekarang matipun aku sendirian.

Dia benar, aku memang menyedihkan. Aku pun tersenyum pahit. Lalu semuanya menjadi gelap.

________________________

Saat aku membuka mataku. Kulihat wajahnya. Yg sedang menatapku khawatir.

“dimana aku?”

“dirumah sakit” ujarnya datar.

“kenapa kau ada disini?” tanyaku heran. Kemana nenekku?.

“kenapa kau lakukan hal ini? Tanyanya balik.

“eh? Apa?”

“jangan pura2 bego! Kenapa kau berniat bunuh diri?” teriaknya marah.

“aku bosan” dia menamparku. Dan aku shock.

“kau keterlaluan, kau pikir bagaimana dengan perasaanku?”

Aku bengong menatapnya.

“perasaanmu?”

“kau bunuh diri, setelah aku pergi dan mengatakan hal yg menyakitimu. Kalau kau mati, aku akan menyesal seumur hidupku. Krn kau bunuh diri krn kata2ku” teriaknya

“kau jgn geer, aku bunuh diri, krn aku bosan, dan tidak ada yg peduli denganku, bahkan seandainya aku mati, org tuaku pasti senang”  aku ingin sekali menangis tp aku tidak ingin menangis dihadapannya.

“ada yg peduli padamu” bentaknya.

“siapa?” tanyaku menantang.

“nenekmu… dan aku” dia menunduk menatap lantai.

Aku terdiam menatapnya.

“kenapa kamu peduli padaku, atau kau hanya kasihan padaku? Aku tidak butuh rasa kasihanmu” teriakku.

“memangnya apa yg salah dgn rasa kasihan? Bukankah itu tanda bahwa aku peduli padamu?”

Aku memandangnya. Aku menggigit bibirku geram. Kutarik kemejanya. Kuraih wajahnya dan menciumnya.

“apa yg kau lakukan, apa kau sudah gila?” teriaknya. Mendorongku.

“yah aku gila, aku menjijikan, menyedihkan,  bahkan aku tercipta krn dosa org tuaku. Ayahku terpaksa menikahi ibuku krn ibu mengandung diriku. Dan setelah aku lahir, mereka bercerai. Dan mengabaikanku. Dari awal mereka tdk menginginkanku.” dapat kurasakan air mataku membasahi pipiku.

“tidak ada yg pernah mencintaiku, bahkan org tuaku” aku menangis terisak.

Kurasakan sebuah belaian lembut di wajahku. Aku mendongak menatapnya.

“kalau begitu, akulah yg akan mencintaimu?”

“ternyata kau lebih gila” tawaku lirih.

“aku serius” dia menatapku dalam.

“hei, kitakan cowo”

“lalu kenapa? sejak pertama kali melihatmu aku sudah jatuh cinta padamu, walau saat itu aku pikir kau perempuan”

“eh, melihatku pertama kali?” tanyaku heran.

“apa kau lupa, saat di sungai waktu itu” jelasnya.

lalu aku berpikir. dan aku mengingatnya “ eh? jangan2 kau sengaja menghanyutkan sepatu agar aku mengambilkan untukmu, lalu kau bisa berkenalan denganku” jelasku bercanda.

“yah, begitulah, tp ternyata kau menyebalkan dan membiarkan sepatuku hanyut” wajahnya memerah.

Hei, ternyata dia serius..

“ suruh siapa kau hanyutkan? dasar norak” seruku.

“jadi apa kau mengijinkanku mencintaimu?”

“aku tidak tahu, saat ini yg kupikirkan adalah ingin meminum obat2an itu sebanyak mungkin”

“tidak akan aku biarkan kau melakukannya”

“kalau begitu bercintalah denganku”  ucapku menggodanya.

“apa hanya itu yg ada di otakmu?’ dia memukul kepalaku.

“hei, aku ini lg sakit” seruku, sambil mengelus2 kepalaku.

“aku mohon, jangan lakukan hal semacam itu lagi. Berjanjilah”  ucapnya lembut memohon. Sambil  menyentuh pipiku dan menatapku lembut.

“cium aku”

“kau ini tidak bisa di ajak serius yah, aku ini benar2 mengkhawatirkanmu” katanya marah sambil mengacak pinggang memelototiku.

“kalau kau menciumku dgn lembut, dan membuktikan bahwa kau benar2 mencintaiku. Aku berjanji tidak akan melakukannya lg” aku menatapnya lurus ke matanya. Bahwa aku serius dgn ucapanku.

Dia mendekati diriku. Membungkuk dan menciumku. Begitu perlahan dan lembut. Aku pun menangis.

“hei, kenapa kau menangis, kau ini cengeng sekali”

“aku menangis krn aku bahagia tahu” sergahku sambil menggosok2 mataku dgn lengan baju piyama rumah sakitku. Dia menarik lenganku. Memandangku.

“nah aku sudah menciummu, kau sudah janjikan”

“yah, aku janji, aku tidak akan melakukannya lg” sambil tersenyum jail. Mengangkat tanganku. Lalu membuat tanda peace dgn jariku.

Dia tersenyum lembut padaku.

“hei, Minho”

“yah”

“bisakah kita bercinta sekarang, milikku benar2 sudah tegang”

Dia memukul kepalaku, dan pergi meninggalkanku.

____________________________

Setelah pulang dari rumah sakit, aku harus beristirahat dirumah 2 hari. Aku dirumah sendirian, nenek pergi bekerja di ladang. Sedangkan Minho dia sekolah.

“aahh bosaann” teriakku jengah.

Aku memutuskan pergi keluar kamarku. Dan tanpa sengaja melihat kotak obat di lemari kaca nenekku. Dan rasa itu menjalar lg dalam tubuhku. Aku ingin memakainya. Aku mendekati lemari itu, membukanya dan mengambil kotak itu.

“sedang apa kau?”

Aku kaget, dan tanpa sengaja melepaskan kotak obat itu dari tanganku, membuat isinya berhamburan ke lantai.

“Minho, kau mengagetkanku saja!” bentakku. Sedangkan Minho diam menatapku dari ambang pintu depan rumah yg terbuka.marah.

“eh, ini aku tidak.. hei, knp kau ada disini?”

“kau sudah janji” aku pun diam.

“maaf” kataku menyesal.

“kau sudah janji Taemin” bentaknya.

“ok, ok, aku minta maaf, tapi kaukan tidak tahu bagaimana rasanya. Kaukan bukan pecandu” kataku kesal.

“tapi kau sudah janji” ucapnya. Menurunkan nadany sedikit. Walau masih ada getaran marah di bibirnya.

“akukan sudah minta maaf”

“padahal, aku ngebela2in bolos untuk menemanimu, tp kau malah mmbuatku marah”

“akukan sudah minta maaf, ah sudahlah. Aku mau tidur. Badanku benar2 terasa tidak enak” kataku ikut marah. Dan melangkah cepat ke arah kamarku . Aku menatapnya geram, dan kubanting pintu kamarku saat menutupnya.

Aku langsung berbaring di tempat tidur. Dan kurasakan tubuhku mulai menggigil kedinginan. Aku meringkuk dan memeluk erat lututku.Lalu terdengar pintu kamarku terbuka.

“aku minta maaf, sepertinya aku terlalu keras padamu. Maafkan aku” aku diam. Aku berusaha menahan sakit tubuhku. Tapi sepertinya tubuhku bergetar hebat tanpa kehendakku.

“hei Taemin, kau tidak apa2” aku diam tdk bisa bicara.

“Taemin” Minho membalikan tubuhku. Saat aku melihat wajahnya. Aku menangis.

“Minho, tolong aku. Sakit sekali. Aku tidak kuat” isakku pelan. Tubuhku terus menggigil.

Minho menatapku tajam. Dia mengambil selimut dan menyelimutiku. Lalu memelukku. Sambil mengusap2 punggungku.

“apa ada yg bisa ku lakukan untukmu?” Tanyanya lembut.

Aku menatapnya. Kuraih wajahnya. Dan menciumnya.

“bercintalah denganku” pintaku memohon. Dan kurasakan wajahku kaku. Dan seperti dia melihat wajahku memucat.

“Taemin, dalam keadaan seperti ini kau masih saja..”

“aku serius.. “aku mencengkram bajunya. Menunduk menahan sakit.

“hei, Taemin?” panggilnya. Tapi aku terdiam. Kepalaku rasanya mau pecah.

Aku  mendorongnya. Lalu aku beranjak berdiri dr tempat tidurku. Aku menatapnya nanar. Aku mendorongnya sekali lagi sehingga dia jatuh terbaring di tempat tidurku. Aku langsung menindihnya.

“hei, Taemin” kulihat Minho menatapku panik.

Aku mendekatkan wajahku. Menciumnya. Melumatnya. Menggigit bibir atas dan bawahnya. Kemudian ku masukan lidahku kemulutnya. Aku menatapnya dan dia pun menatapku. Kami berciuman tanpa memejamkan mata kami, saling menatap, saling menantang. Dia marah. Tapi aku tidak peduli.

Aku membuka baju tidurku.

“tunggu Taemin” sergahnya cepat.

Tapi lagi2 aku mengacuhkannya. Aku benar2 sudah kerasukan dewa seks sepertinya. Ku buka celanaku. Dan aku telanjang bulat dia atas tubuhnya. Dia memalingkan wajahnya. Sedangkan aku membuka celananya. Dan mulai menjilati miliknya.

Dia beranjak duduk, mengangkat kepalaku. “ tindakanmu sudah terlalu jauh” tatapnya geram.

“ kau diam saja dan nikmati” aku balas menatapnya dan melanjutkan menjilati miliknya.

“Taemin, kau…. Ah!..” Minho menutup mulutnya. Kaget bahwa erangan tadi adalah suaranya. Sedangkan aku tersenyum liar menatapnya. “relax saja” aku membaringkannya lembut Lalu aku melanjutkan dengan mengulum miliknya. Kulihat dia menggigit tangannya yg mengepal. Sambil memejamkan mata.

Saat miliknya sudah menegang. Aku mulai menggosok2 milikku sendiri. Minho melotot padaku.

“kau mau membantuku?” tanyaku seramah mungkin, sedikit menggodanya. Dia hanya memalingkan wajahnya.

“ya, sudahlah, terima kasih” ujarku datar.

Aku mengerang, mendesah.  tubuhku menggeliat di atas tubuhnya.

“hei, sampai kapan kau menahan diri Minho? apa kau benar2 tidak ingin bercinta denganku?”  seruku.

”urus saja urusanmu, dan selesaikan secepatnya”

“kau menyebalkan,  sampai kapan kau mau marah?”

“aku marah krn di otakmu hanya seks, aku kesal!” dia beranjak duduk lg, menatapku tajam.

”kalau begitu, jangan cegah aku meminum obat2an itu, padahal kau bilang mencintaiku, kau bilang ingin menolongku”

Aku balas menatapnya tajam. Dia terdiam.

“ apa tidak ada cara lain?” tanyanya. Dan aku tertawa sinis.

“kalau aku bisa menghilangkan kecanduanku dgn seks, dan aku melakukannya dgn org yg kucintai. Knp hrs memikirkan cara yg lain?”

Dia diam menatapku. Dan aku mendekatinya. Memeluknya.

“sebenarnya tidak seluruhnya aku ingin bercinta krn untuk menghilangkan rasa canduku, tapi krn aku juga memang ingin bercinta dgnmu. Krn aku menyukaimu Minho” bisikku lembut di telinganya.

“Taemin” ucapnya pelan. Aku melepaskan pelukanku, menatapnya.

Aku Menciumnya. Dan kali ini dia membalas menciumku. Dan beberapa menit kemudian semua sudah di luar kendali. Saling melumat, menjilati bibirnya, bibirku bergantian. Dan Minho mulai menggosok2 milikku.  Aku berdiri duduk. Di tumpu kedua lututku. Agar milikku sejajar dengan wajahnya. Dan membiarkannya melumat, mengulum milikku dgn leluasa. Aku hanya mengerang dan mengumpat liar. Dan salah satu tangannya mulai mencari2 area dimana dia akan menyinggahinya. Dan mulai memasuki jari2nya satu persatu memainkannya sambil terus mulutnya mengulum milikku.

Aku mencengkram kuat horden jendela kamarku. Mengerang. Dan menikmatinya. Tubuhku mengejang dan bergetar hebat. Beberapa menit kemudian.  Aku mengerang puas.  Aku menatap Minho yg sedang menjilati  bibirnya lalu tangannya. Aku memandangnya masih tersengal2. Lalu membungkuk, menciumnya.

“sekarang giliranku” aku mulai memasukan miliknya kedalam tubuhku. Kami berdua mengerang tertahan.  Dan selanjutnya gerakan2 liar kami berdua, membuat tempat tidurku berderit2 liar. Menggema, mengiringi rintihan dan erang2an  dalam kamarku.

Tubuhku naik turun, menciptakan suara dentaman liat tubuh kami, suara gesekan kulit yg basah krn keringat.

“Minho..” erangku. Dia menarik wajahku menciumku, melumatku.

Beberapa jam kemudian. Dia mengerang puas. Dan kami berdua jatuh terkulai di tempat tidur.  Masih berpelukan. Dan miliknya yg masih berada di dalam tubuhku masih menandai teritori dgn cairan hangatnya. Kami bertukar pandang, napas kami masih tersengal2.

“ini benar2 asik, lebih asik daripada memakai obat2an terlarang ” kataku riang dan manja padanya.

“dasar” serunya sambil mengelus2 lembut wajahku.

Aku bangkit untuk menciumnya. “ sepertinya kau akan menjadi obat2an terlarang kedua yg membuatku kecanduan” menciumnya lagi. Melumatnya.

“kedua? Cuman kedua? Obat terlarang? Memangnya aku terlarang?” tanyanya heran.

“yah, yg kedua. Tapi yg bakalan paling sering bikin aku kecanduan. Dan sepertinya aku tidak akan memakai obat2an terlarang lg, tenang saja. Asal kau mau aku gunakan. Dan terlarang krn seks diluar nikah dan mencintai sesama jenis itukan dilarang kan? ” bisikku ditelinganya nakal.

“di gunakan? Hei, aku ini bukan barang” katanya jengkel.

“aku tahu, makanya lebih asik” ujarku. “ Choi Minho. aku benar2 menyukaimu” aku menciumnya lg. dia menarik tubuhku membuatku berada di atasnya. Memelukku. Dan menekankan kepalaku ke wajahnya agar kami bisa berciuman lebih dalam.

Selamat tinggal, hei obat2an terlarang yg menghancurkan hidupku juga tubuhku. Sekarang aku menemukan obat baru yg lebih bikin aku kecanduan dan tidak akan menghancurkan tubuhku. Nama obatnya Choi Minho.

~My Second Drug~

 

 

~The End~

Comments on: "[FF] Second Drug [Bloody NC] – 2Min" (24)

  1. annyeong aku readers baru disini^^
    baru baca 1 ff aja udah susah nafas *lebe*
    aigoooo ceritanya bener2 deh, ga nyangka taemin bisa kayak gitu >/////<\
    bagus chingu ceritanya~

  2. antyy21sungmin said:

    Annyeong,,
    new reader🙂
    Ff.ny keren euy,,
    tpi taem.ny trlalu nepsong nie sma minho ><

  3. SusuPisangRasaAyam said:

    Uwaaah nyasar nemu 2min aigu minho nya biasa pervert skrang ganti taem?
    Ckck *geleng kepala*

  4. Ini ide tergila,
    taemin seorang pecandu seks dan narkoba,
    ckckck,
    minho keenakan tuh,

  5. haaaddeeuuhhh.. bacanya panas dingin *plak..
    ceritanya keren, lain kali cast-nya hanchul dong jangan 2min terus🙂
    kalo hanchul lebih hot lagi yaa.. mereka kan udah dewasa *halah bahasa gw >////<
    *abaikan..

  6. Annyeong.. Numpang ninggal jejak

    Omo~ panas bgt ini. Minho yg sabar yah (?)

    nice ff author, I like it

  7. Aku udah pernah baca ini di fb. Eh di wp juga ada. Temennya madam red ya ini?

  8. Annyeong, reader bru nih~ buka gugel nemu ini, wah, mujur siang bolong! > <

  9. ini author nya red moizelle ituu bukan??
    kkkkk
    h.o.t~
    d fb blum smpt baca… hoohoho

  10. zhewie c'shawolshinee said:

    asiikkkkk…..
    Minho jd obat trlarang nya taemin…hehehe

  11. Gila~ panas dingin bacanya wkwk
    Tapi itu minho kuuuu~ *asah golok* taemin awas kau! Lol (^o^)/

  12. lollipoppo said:

    astaga, taemin.
    Parah kau nak.
    Tak apalah.
    Aku membiarkanmu kecanduan choi minho haha.

  13. Comment dlu bru baca.
    Hihi

  14. anyeong…
    new reader…
    uuuh…
    crita.a kren bgt,..

  15. Annyeong.. New reader imnida😀

    ffnya keren banget chingu >,<
    taeminnya nafsu sama minho -,-
    pokoknya keren keren keren😀

  16. hihi bru ngerti am judulny,,,trnyta second drugny itu si abang minho kkkk😀
    setdah si tetem agresif bngt,,,tp ngeri jg ngebayangin dy kesakitn karena kecanduan hwaaa untng ada abang minho jd mw kecanduan seumur hdup am si minho jg ga mslah wkwkwkwkw😀

  17. aku ubek2 gugel ampe jempol gempor,
    Akhirnya nemu ff ini.
    Sumpeh biasanya baca ff nc g terlalu asdfghjkl *ketauan deh gw* tapi ini bener2 merasuk (?), semacem aku bisa ngerasain apa yg dirasain taemin.
    Aku juga sempet nangis,
    Gue suka taemin yg begajulan begini. Beneran deh

    THUMB THUMB TUHMB ^^;;
    DAEBAK THOR!!
    lanjutkan bikin cerita yg beda ky gini *ketjup!!

Comment kamu ?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: